Tangis Leni Kehilangan Suami dan Putrinya di Perairan Banyuasin

Eko Prasetyo Jaya    •    Kamis, 04 Jan 2018 21:34 WIB
kecelakaan kapal
Tangis Leni Kehilangan Suami dan Putrinya di Perairan Banyuasin
Wakapolda Sumsel, Brigjend Bimo Anggoro Seno memberikan berkas identitas jenazah pada Leni yang kehilangan suami dan putrinya dalam kecelakaan speedboat di perairan Banyuasin, Kamis, 4 Januari 2018, Medcom.id - Eko Prasetyo

Palembang: Leni, 25, berduka. Dalam sehari, ia harus kehilangan dua orang yang dicintainya setelah kecelakaan kapal cepat 'Awet Muda' di perairan Tanjung Seri Bagan 13, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu malam, 3 Januari 2017.

Baca: Speedboat tak Dilengkapi Peralatan Keselamatan

Leni terus menangis di Kamar Jenazah RS Bhayangkara Palembang. Di kamar tersebut, suami dan anak perempuannya terbujur tak bernyawa. Keduanya yaitu Mulyono, 27 dan Bunga, 9.

Warga Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, itu mengatakan kemarin sore, ia bersama suami dan dua anak mereka bertolak dari dermaga Primer 2 Karang Agung, Kabupaten Musi Banyuasin. Namun, mereka menumpang dua kapal yang berbeda.

Leni dan salah satu anaknya, Ludi, 6, bertolak lebih dulu menuju Kota Palembang. Sementara Mulyono dan Bunga menggunakan kapal cepat 'Awet Muda'.

Perjalanan Leni dan Ludi lancar. Memang, ujarnya, ombak terasa sedang tinggi. Kapal cepat yang ia tumpangi tiba dengan selamat di Dermaga Pasar 16 Ilir.

Leni tiba di rumah sekitar pukul 19.00 WIB. Leni menunggu kedatangan Mulyono dan Bunga sembari memasak. Lantaran kelelahan, Leni tidur.

"Lalu Kamis dini hari, pintu rumah saya digedor. Ada petugas mengabarkan kapal cepat tenggelam dan ada korban tewas," tutur Leni saat ditemui di RS Bhayangkara Palembang tanpa bisa menutupi rasa dukanya.

Leni lalu meminta kerabatnya menemani ke RS Bhayangkara. Begitu tiba di kamar jenazah, Leni histeris menemukan jenazah putrinya.

Leni mengaku tak mendapat firasat apapun mengenai kejadian tersebut. Tapi, Leni masih mengingat Bunga terus merengek untuk ikut ibunya berjualan di Pasar Kalangan di Musi Banyuasin.

"Biasanya ditinggal. Tapi dia tidak mau. Merengek mau ikut. Jadi kami ajak saja. Tidak tahunya kejadian seperti ini," ungkap Leni sambil sesekali menyeka air matanya. 

Sepeninggal Mulyono, Leni pun bingung untuk mencari nafkah. Mulyono merupakan tulang punggung keluarga. Berdagang pakaian di pasar kalangan menjadi satu-satunya usaha untuk menghidupi keluarga. 

"Kami berjualan baru setahun ini. Ya, tiap jualan pasti berdua. Anak-anak itu kadang-kadang saja ikut. Saya bingung mau bagaimana ke depannya," tuturnya.

Sementara itu, kakak Mulyono, Wagino menuturkan dirinya mengenal sosok adiknya sebagai pekerja keras, bertanggung jawab, dan sangat mencintai keluarganya. Diungkapkannya, Mulyono memang sangat dekat dengan anak perempuannya, Bunga. 

"Bunga itu orangnya periang. Memang keduanya sangat dekat. Apa-apa selalu bapak. Bapaknya juga sering memanjakan dan memenuhi segala permintaannya," 

Wagino menuturkan pihak keluarga saat ini tengah fokus untuk menggelar pemakaman yang layak bagi Mulyono dan Bunga. "Rencananya akan dimakamkan di TPU dekat rumah," pungkasnya. 

Lihat video:



(RRN)