Malaysia Respon Positif Hukuman Cambuk di Aceh

Nurul Fajri    •    Senin, 20 Mar 2017 17:12 WIB
hukuman cambuk
Malaysia Respon Positif Hukuman Cambuk di Aceh
Pelaksanaan hukuman cambuk di Aceh -- ANT/Ampelsa

Metrotvnews.com, Banda Aceh: Pelaksanaan hukuman cambuk oleh Kejaksaan Negeri Banda Aceh kepada 12 pelanggar Syariat Islam mendapat respon positif dari rombongan wisatawan Malaysia. Mereka menilai, proses tersebut bisa memberi pelajaran bagi masyarakat Aceh khususnya.

Ketua Dewan Musabbas Malaysia Sazanurida mengatakan, hukuman cambuk sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Hukuman ini juga bisa menjadik pelajaran bagi pelaku dan masyarakat sekitar yang ikut menyaksikan.

Di Malaysia, lanjut Sazanurida, hukuman cambuk sudah diterapkan sejak 1984 dengan adanya Undang-undang Nomor 335. Namun, terhukum hanya dicambuk enam kali sesuai pelanggaran yang dilakukannya. Berbeda dengan Qanun Jinayat Nomor 6 2014 yang mengatur hukuman hingga 100 kali cambukan sesuai putusan Mahkamah Syariat.

"Kita sedang menggodok perubahan undang-undang agar hukuman enam kali cambuk dinaikkan jadi 100 kali cambuk. Dan Parlemen sedang membahas soal ini," kata Sazanurida, Senin, 20 Maret 2017.

Hal senada diungkapkan anggota Dewan Musabbah Malaysia Salamah. Baginya, proses ini sangat bagus untuk pengajaran bagi masyarakat agar tidak berbuat hal yang sama.

"Di Malaysia belum ada hukuman seperti ini. Dan Insya Allah akan terwujud jika Pemerintah mau buat," kata dia.

(Baca: Pejudi dan Pelanggar Syariat Dicambuk)

Sementara, Senator Kerajaan Malaysia mewakili Negeri Kelantan Daro Dr Johari Bin Mat mengatakan, ini pertama kalinya dia melihat langsung proses hukuman cambuk. Ia mengaku kagum atas penerapan hukuman cambuk. Ia juga mengapresiasikan pemerintah yang bersungguh-sungguh menerapkan Syariat Islam di tengah masyarakat.

Johari dan rombongan ikut menyaksikan proses hukuman cambuk bagi 12 pelanggar syariat Islam yang digelar di halaman Masjid Lamteh, Ulee Kareng.

Masing-masing pelanggar diganjar hukuman tujuh hingga 22 kali cambukan sesuai putusan Mahkamah Syariat Kota Banda Aceh. Bagi Salamah, proses ini sangat bagus untuk pengajaran bagi masyarakat agar tidak berbuat hal yang sama.


(NIN)