Polisi Masih Jaga Lokasi Pembakaran Kapal Nelayan di Perairan Asahan

Farida Noris    •    Minggu, 11 Sep 2016 13:21 WIB
nelayan
Polisi Masih Jaga Lokasi Pembakaran Kapal Nelayan di Perairan Asahan
Suasana saat dua kapal pukat harimau dibakar massa. (Metrotvnews.com/ist/dok Polda Sumut)

Metrotvnews.com, Medan: Personel kepolisian masih berjaga-jaga pasca-pembakaran empat kapal pukat harimau dan pukat tarik di wilayah perairan Sei Berombang dan perairan Asahan, Sumatera Utara. Situasi di wilayah itu berangsur-angsur kondusif setelah ribuan nelayan membakar empat kapal penangkap ikan tersebut.

"Saat ini sudah kondusif, ada aparat gabungan yang diturunkan ke sana dari TNI AL dan Polri (gabungan Polres Asahan dan Polres Tanjungbalai)," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting, Minggu (11/9/2016).

Aksi pembakaran empat unit kapal yang terjadi pada Sabtu (10/9/2016) itu terjadi akibat kekecewaan nelayan tradisional terhadap kinerja petugas yang tidak menindak tegas keberadaan pukat harimau dan pukat tarik. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

"Kejadian itu langsung diantisipasi. Kita minta masyarakat jangan anarkis," ucap Rina.



Pembakaran terjadi sekira pukul 12.00 WIB, di perairan Sei Berombang, Kabupaten Labura. Rratusan nelayan dengan menaiki kapal, mengadang kapal pukat harimau yang masih beroperasi. Mereka lantas membakar dua unit kapal di perairan itu. Sementara, 20 anak buah kapal berhasil menyelamatkan diri dengan menaiki kapal massa.

Kemudian, massa gabungan nelayan Tanjungbalai dan nelayan Asahan dengan menggunakan kapal berlabuh menuju ke wilayah Tanjungbalai hingga mengundang perhatian massa menjadi lebih kurang 1.000 orang.

Dua unit kapal pukat harimau lantas dibakar sekitar pukul 15.30 WIB saat bertambat di perairan Sei Asahan di daerah Sei Apung Jaya Kecamatan Tanjungbalai Kabupaten Asahan.

Ratusan petugas gabungan TNI AL dan Polri langsung dikerahkan untuk menjaga keamanan di sekitar perairan Tanjungbalai-Asahan. Kemudian sekitar pukul 20.30 WIB, massa nelayan tradisional membubarkan diri setelah diimbau petugas keamanan.

Masih beroperasinya kapal pukat trawl dan pukat tarik sudah lama dikeluhkan para nelayan tradisional. Pada Senin (29/8/2016), ribuan nelayan bahkan melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Bupati Asahan menuntut Pemkab Asahan dan Polres Asahan untuk menertibkan kapal pukat harimau dan pukat tarik.


(SAN)