Jalani Asimilasi, Mantan Wakil Bupati Natuna Jatuh Tersungkur Lalu Meninggal

Anwar Sadat Guna    •    Selasa, 21 Nov 2017 17:32 WIB
obituari
Jalani Asimilasi, Mantan Wakil Bupati Natuna Jatuh Tersungkur Lalu Meninggal
Suasana saat jenazah almarhum Imalko, mantan Wakil Bupati Natuna disemayamkan di rumah duka, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Tanjungpinang: Mantan Wakil Bupati Kabupaten Natuna, Imalko yang baru menjalani proses asimilasi dalam kasus tindak pidana korupsi, meninggal, Selasa, 21 November 2017 sekitar pukul 12.00 WIB. 

Informasi yang dihimpun Metrotvnews.com, Imalko meninggal sesaat setelah tak sadarkan diri ketika bermain bersama anaknya di rumahnya, KM 8, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Informasi meninggalnya Imalko dibenarkan Kepala Rutan Tanjungpinang, Ronny Widiatmoko. Ronny mengatakan, warga binaan Rutan Tanjungpinang tersebut meninggal ketika menjalani proses asimilasi di luar lingkungan rumah tahanan (rutan).

"Terhitung mulai hari ini, saudara Imalko telah mendapatkan surat keputusan pembebasan bersyarat dan surat keputusan menjalani proses asimilasi. Nah, saat proses asimilasi berlangsung dan saudara Imalko izin untuk pulang ke rumahnya, kami mendapat kabar bahwa beliau meninggal dunia," ungkap Ronny kepada wartawan di Rutan Tanjungpinang, Selasa, 21 November 2017.


Kepala Rutan Tanjungpinang Ronny Widiatmoko memberikan keterangan pers terkait meninggalnya warga binaan rutan, Imalko yang juga mantan wakil bupati Natuna, Selasa, 21 November 2017.

Ronny mengatakan, saat berada di rumah dan bermain dengan anaknya, Imalko tiba-tiba tak sadarkan diri dan jatuh tersungkur. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Kepri di KM 8 Tanjungpinang. "Saat di sana, kami mendapat kabar bahwa beliau sudah meninggal dunia," ujarnya. 

Proses asimilasi yang dijalani Imalko rencananya berlangsung hingga 20 Desember 2017. Setelah itu, jelas Ronny, warga binaan rutan tersebut dinyatakan bebas bersyarat. 

Ia menjelaskan, untuk proses asimilasi ini, rutan bekerja sama dengan pihak ketiga, dalam hal ini sebagai mitra pemerintah yakni Komisi Penaggulangan HIV/AIDS. Proses serah terima Imalko dari rutan ke komisi tersebut berlangsung sekira pukul 11.22 WIB.

"Bahkan kami sempat mendampingi saudara Imalko ke komisi tersebut untuk menjalani proses asimilasi. Ketika jam istirahat, yang bersangkutan (Imalko) izin untuk pulang ke rumahnya. Karena sedang menjalani asimilasi, itu (izin pulang) sah-sah saja," jelasnya. 

Setelah berada di RSUP Kepri, almarhum Imalko selanjutnya dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan. Pantauan Metrotvnews.com, keluarga besar almarhum, kerabat, rekan, dan tetangga mulai berdatangan ke rumah duka. Suasana haru tampak menyelimuti rumah duka. 

"Begitu dapat kabar, saya langsung ke rumah duka. Informasi yang kami dapat, almarhum tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri ketika main bersama anaknya di rumahnya KM 8 Tanjungpinang," kata Sakirin, mantan ajudan almarhum ketika masih menjabat Bupati Natuna. 

Hingga pukul 15.10 WIB, suasana rumah duka tampak ramai. Beberapa pegawai yang bekerja di Kantor Bupati Natuna juga mulai berdatangan. 

Sekadar diketahui, Imalko sebelumnya terjerat kasus dugaan korupsi karena terlibat dalam memberikan kebijakan dana Bansos tahun 2011-2013 kepada LSM Badan Perjuangan Migas Kabupaten Natuna (BPMKN).

Dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi tersebut, Imalko dihukum 1 tahun enam bulan penjara dikurangi masa tahanan selama menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang. 

Terdakwa kala itu juga didenda Rp50 juta subsider enam bulan penjara. "Warga binaan tersebut telah menjalani hukuman sekira satu tahun dan pada April 2018 mendatang sudah dinyatakan bebas," kata Ronny Widiatmoko.


(ALB)