Mantan Napi Teroris Pendiri Pesantren Sempat Dituding `Boneka` BNPT

Farida Noris    •    Senin, 05 Sep 2016 12:25 WIB
pesantren
Mantan Napi Teroris Pendiri Pesantren Sempat Dituding `Boneka` BNPT
Para santri anak-anak dari orangtua mantan teroris belajar di Pondok Pesantren Darusy Syifaa di Dusun IV, Desa Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deliserdang, Sumatera Utara. (Foto: MTVN/Farida Noris Ritonga)

Metrotvnews.com, Medan: Mantan narapidana kasus terorisme Khoirul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, 50, sempat dituding sebagai `boneka` Badan Nasional Penanggulangan Terorisme saat mendirikan Pesantren Darusy Syifaa di Dusun IV, Desa Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deliserdang, Sumatera Utara. Tudingan itu datang dari rekan-rekan yang pernah terlibat dalam aksi terorisme.

"Saya dianggap boneka BNPT," kata Ghazali saat ditemui Metrotvnews.com, Minggu (4/9/2016).

Pria yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga, Medan, pada Agustus 2010, lalu itu mendapat pembebasan bersyarat. Ghazali pun dikhawatirkan akan membocorkan rahasia kelompok teroris. Meski demikian, ia merasa tak terganggu dengan semua tudingan itu.

"Saya tidak masalah. Terserahlah," ujar dia.

Saat ini, Pesantren Darusy Syifaa memiliki 20 santri. Para santri merupakan anak-anak dari mantan teroris. Mereka mendapat pendidikan di pesantren milik Ghazali ini karena dikucilkan dari lingkungan.

"Selama ini anak-anak mantan teroris terlantar pendidikannya. Negara tidak mengurus mereka. Banyak anak-anak mantan teroris yang butuh perhatian. Mereka tidak punya biaya setelah orangtuanya ditahan dan meninggal karena terlibat aksi terorisme," tutur dia.

Ghazali memperkirakan sekitar 20 ribu anak di Indonesia yang orangtuanya terlibat kasus terorisme. Khusus di Sumatera Utara, sekitar 70 anak dari 25 orangtua yang terlibat kasus terorisme.

"Pesantren ini memiliki 20 santri mereka ada yang dari Tanjungbalai, Hamparan Perak, hingga Aceh. Semuanya duduk di bangku sederajat SMP, jadi kami paketkan. Memang ada pembicaraan agar anak-anak mantan teroris yang dari luar Sumut nantinya akan dibawa ke sini," kata dia.

Para santri dididik oleh lima pengajar, seorang di antaranya perempuan. Semuanya relawan dan belum mendapat gaji. Para santri tak hanya mendapat Pendidikan Islam, tapi juga muatan deradikalisasi. Mereka diajarkan berwirausaha sehingga nantinya bisa mandiri di masyarakat. Semua itu diberikan secara gratis.

"Kami buat pendidikan dengan konsep sekolah alam. Jadi selama belajar di pondok-pondok ini, mereka diajarkan berternak dan bertani. Untuk pelajaran tertentu mereka memakai jubah, tapi untuk pelajaran wirausaha mereka bebas mengenakan pakaian biasa. Anak-anak tidak perlu memikirkan biaya, karena semua gratis. Sorenya mereka berbaur dengan anak-anak sekitar," ujar Ghazali.

Salah satu pengajar, Haris Iskandar, 50, mengaku tertarik mengajar di pesantren ini karena para santrinya merupakan anak-anak mantan teroris. Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pesantren Darul Arafah dan staf Direksi di Sekolah Khairul Umam, Medan, ini dipercaya menjadi Direktur Pesantren Darusy Syifaa.

"Pesantren ini memadukan antara sekolah formal, pesantren dan sekolah alam. Saya tertarik mengajar program deradikalisasi. Apalagi pesantren ini satu-satunya di Indonesia. Saya sudah 30 tahun mengajar di berbagai sekolah, justru bentuk sekolah begini belum pernah saya masuki, makanya saya merasa tertantang," kata Haris, yang menetap di Pesantren Darusy Syifaa itu.

Sementara itu, seorang santri berusia 13 tahun mengaku senang menimba ilmu di Pesantren Darus Syifaa. Para santri, kata dia, belajar setelah Salat Subuh hingga pukul 10.00 WIB, dilanjutkan setelah Zuhur hingga Ashar.

"Dulunya saya sekolah di kampung. Tapi kelas 4 SD berhenti. Di sini enak belajarnya. Kami juga mengaji dan berolahraga. Jadi tidak perlu ada TV atau handphone. Saya senang tinggal di sini," ujar santri asal Kota Tanjungbalai, itu.


(TTD)