Ratusan Rumah Liar di Batam Dirobohkan

Anwar Sadat Guna    •    Kamis, 18 May 2017 16:12 WIB
pembongkaran rumah
Ratusan Rumah Liar di Batam Dirobohkan
Alat berat merobohkan rumah warga di wilayah Tanjunguma, Batam, Kamis, 18 Mei 2017.

Metrotvnews.com, Batam: Ratusan rumah liar (ruli) di wilayah Tanjunguma, Kota Batam, Provinsi Kepri, digusur Tim Terpadu Kota Batam, Kamis, 18 Mei 2017. Meski sempat diadang warga, tim kukuh merobohkan ratusan bangunan.

Pantauan Metrotvnews.com, ratusan personel gabungan dari Polri, TNI, Direktorat Pengamanan (Ditpam) BP Batam, dan Satpol PP Kota Batam mulai merangsek ke lokasi sekira pukul 10.30 WIB. 

Hujan yang mengguyur kawasan itu tak menghalangi rencana tim terpadu masuk ke wilayah Tanjunguma, Kecamatan Lubukbaja, Batam. Sekira empat alat berat juga dikerahkan untuk merobohkan sekira 100 bangunan.

Warga yang terkena dampak penggusuran sempat berusaha menghalau, namun berhasil dicegah polisi dan Ditpam BP batam maupun Satpol PP. 

"Kami menyayangkan sikap tim terpadu yang melakukan penggusuran tanpa adanya kejelasan ganti rugi kepada warga," kata warga Tanjunguma yang enggan namanya disebutkan, kepada Metrotvnews.com di lokasi. 

Ia mengakui, ratusan warga sudah menerima surat pemberitahuan dari tim terpadu untuk segera membongkar bangunan atau rumah di lahan tersebut. Surat itu diterima warga sekira tanggal 10 Mei 2017.

"Tapi kan harusnya disosialisasikan dulu. Lagipula (surat) itu baru pemberitahuan kedua. Seharusnya masalah ganti rugi diperjelas dulu," ujar ibu rumah tangga itu yang rumahnya ikut digusur. 

Ketua Tim Terpadu Kota Batam Syuzairi mengatakan, penertiban ruli di wilayah itu merupakan tahap kedua. Tahap pertama, tim menertibkan sekira 100 ruli. Di lahan seluas 7 hektare itu akan dibangun gardu listrik oleh pemilik lahan. 

"Ini tahap kedua. Kami sudah menyampaikan pemberitahuan dan melayangkan surat peringatan kepada warga. Namun sampai tadi masih banyak warga belum membongkar bangunannya," ujarnya. 

Pemilik lahan yakni PT Wira Nata Tamtama, melalui pengacaranya, Bali Dalo mengatakan pihak perusahaan sudah secara persuasif melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada warga agar mengosongkan lahan tersebut.

Upaya ganti rugi, kata dia, juga sudah dilakukan. Perusahaannya memberikan uang ganti rugi Rp3,3 juta per rumah kepada warga. Satu rumah ada yang dihuni oleh dua atau tiga kepala keluarga. "Banyak ruli di kawasan itu dijadikan kos-kosan. Satu rumah bisa dihuni dua atau tiga KK," ujarnya. 

Selain uang saku hati, sambung Bali Dalo, perusahaan juga menyewakan rusun kepada warga yang rumahnya digusur. "Saat ini sedang dalam proses pengurusan. Bangunan rusunnya ada di dua lokasi yakni di Fanindo dan Tanjunguncang," ujarnya. 


(ALB)