Ahli Forensik: Briptu Marisi Alami Pendarahan Selaput Tipis Otak

Farida Noris    •    Senin, 10 Oct 2016 19:25 WIB
pembunuhan
Ahli Forensik: Briptu Marisi Alami Pendarahan Selaput Tipis Otak
Suasana persidangan kasus pembunuhan terhadap Briptu Marisi di PN Medan, Sumut, Senin (10/10/2016). (Metrotvnews.com/Farida Noris)

Metrotvnews.com, Medan: Sidang kasus pembunuhan personel Brimob Polda Sumut Briptu Marisi Robert Parulian Silaen kembali digelar, Senin (10/10/2016). Pada sidang di ruang Candra I Pengadilan Negeri (PN) Medan, jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan ahli forensik dari RS Bhayangkara Medan.

Pesidangan itu mendudukkan enam orang terdakwa. Masing-masing Rudini Syahputra alias Acong, 22; Oby Rivaldi Lubis, 22; Wirdiansyah Dinata alias Imam, 22; Ricardo Tampubolon, 24; Ilham, 24; dan Betong, 26. 

Di hadapan ketua majelis hakim Azwardi Idris, ahli forensik Surjith Singh mengatakan, proses autopsi terhadap korban Marisi dilakukan di instalansi forensik RS Bhayangkara Medan pada 10 Mei 2013 sekitar pukul 10.00 WIB.

"Kondisi korban saat itu sudah meninggal. Di tubuhnya terdapat lecet pada wajah, punggung dan tangan, rahang kiri bawah patah, kepala bagian belakang luka dan lebam pada pipi. Luka lecet biasanya karena jatuh atau terbentur benda dengan permukaan kasar atau dipukul," jelas Surjith.

Baca: 3 Tahun Tertunda, Polisi Rekonstruksi Pembunuhan Anggota Brimob

Dalam autopsi, kata Surjith, didapati pemukulan terhadap korban dilakukan fokus pada bagian wajah dan kepala. Ditemukan lebam di bagian leher belakang korban disebabkan pecahnya pembuluh darah di bawah kulit karena benturan benda tumpul. 

"Di dalam kepala terdapat resapan darah yang luas dari kepala bagian depan ke bagian belakang. Dijumpai patahnya tulang tengkorak (fraktur bergaris) dari kepala bagian depan ke belakang," ucapnya.

Selain itu, kata Surjith korban juga mengalami pendarahan di selaput tipis otak. Dua gigi seri bagian kiri korban juga patah. Ditemukan pula kain kasa di rongga mulut dan dua rongga hidung yang berlumuran darah.

Selain darah, ada juga buih keluar dari hidung korban. Sementara itu, ada luka lecet di kelopak mata kiri dan robek di pipi kiri. 

"Dalam forensik, salah satu cara memperkirakan waktu kematian korban dengan cara menekan kulitnya. Kalau meninggalnya antara 6-8 jam, bekas darah bagian badan yang ditekan akan hilang, tapi ini ditekan enggak hilang, berarti sudah meninggal di atas 6-8 jam," katanya.

Yang jelas, lanjut Surijt, pihaknya memeriksa semua bagian tubuh saat autopsi, termasuk perut. Pihaknya menemukan luka di tangan. "Mungkin saat dipukul, korban sempat menangkis. Bisa dipukul pakai kayu, batu, atau pipa," urainya.

Dalam kasus ini, para terdakwa dan satu buronan, Doni, dinilai secara bersama-sama melakukan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan Briptu Marisi meninggal.

Kejadian bermula saat keenamnya bersama untuk mencari mangsa. Mengendarai tiga unit sepeda motor, para pelaku berkeliling di sekitaran Jalan Setia Budi Sunggal. Namun kembali ke Jalan Sei Serayu karena tidak menemukan calon korban.

Sekitar pukul 04.30 WIB, Briptu Marisi melintas di lokasi. Melihat korbannya sendirian, dua pelaku masing-masing Ricardo dan Acong mengejar korban. Kemudian memukul tengkuk korban hingga terpental dari sepeda motor.

Para pelaku kembali memukuli korban. Setelah itu, pelaku kabur membawa motor dan meninggalkan lokasi kejadian. Pelaku sempat buron akhirnya tertangkap di lokasi yang berbeda oleh petugas Polsek Sunggal.


(SAN)