Perambahan Kawasan TNG Leuser Ancam Populasi Satwa Liar Dilindungi

Budi Warsito    •    Selasa, 18 Oct 2016 09:26 WIB
satwa dilindungi
Perambahan Kawasan TNG Leuser Ancam Populasi Satwa Liar  Dilindungi
Juru bicara Koalisi TNGL Panut Hadisiswoyo. (foto: MTVN/Budi Warsito)

Metrotvnews.com, Medan: Populasi satwa liar dilindungi yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) terancam dengan aktivitas perambahan dan penebangan liar.

Menurut Koalisi Penyelamatan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), di kawasan Taman Nasional, ada empat populasi hewan dilindungi yang hidup berdampingan, yakni, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Orangutan Sumatera.

Juru bicara Koalisi TNGL Panut Hadisiswoyo mengatakan populasi Orangutan saat ini ada sekitar 6.000-an, Gajah Sumatera ada sekitar 500-an, Harimau Sumatera kurang lebih 100-an, dan Badak Sumatera saat ini mungkin tidak lebih dari 50-an.

"Data Badak Sumatera sangat kritis dan kami tidak bisa menjamin ada populasi badak lebih dari 50-an, yang artinya sangat terancam punah. Bahkan yang lainnya juga ikut akan terancam punah," katanya, Senin (17/10/2016).

Panut mengatakan pihaknya akan terus melakukan upaya-upaya untuk melestarikan hewan tersebut. Ia mengungkapkan, TNGL merupakan salah satu warisan dunia yang masuk dalam daftar warisan dunia dalam bahaya oleh UNESCO World Heritage Committe pada 2011. Jika hingga 2018 tidak mampu mengatasi permasalahan tersebut, sangat mungkin TNGL akan dikeluarkan dari status warisan dunia.

"Jika itu sampai terjadi, maka menjadi catatan terburuk bagi Pemerintah RI karena tidak bisa menjaga kawasan TNGL yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia," tuturnya.

Menurutnya, TNGL merupakan aset penting yang dapat menyangga kehidupan masyarakat Sumut dan Aceh, serta tempat hidup satwa langka. Jika tidak ditangani serius oleh pemerintah, masalah ini akan semakin besar.

Sementara itu, Didin dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mengatakan, ada korelasi antara aktivitas perambah dengan kepunahan satwa liar dilindungi. Perambahan hutan yang terjadi di kawasan TNGL menyebabkan hewan terganggu dan masuk ke lahan warga yang berada di TNGL. 

"Hewan yang dibanggakan dan dilindungi tersebut dianggap hama. Banyak hewan yang diracuni oleh warga. selain itu dampak ekologis sudah mulai muncul," tandasnya.

Koalisi Penyelamatan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ini terdiri dari tujuh yayasan lingkungan yang terdiri dari, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Center (YOSL-OIC), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Yayasan Leuser Internasional (YLI), The Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic), Scorpion, Forum Konservasi Leuser (FKL) dan Lembaga Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).



(MEL)