Hingga Juli, 269 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel

Alwi Alim    •    Kamis, 27 Jul 2017 18:47 WIB
kebakaran lahan dan hutan
Hingga Juli, 269 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel
Pemadaman kebakaran lahan dan hutan menggunakan helikopter. (Metrotvnews.com/dok BPBD Sumsel)

Metrotvnews.com, Palembang: Sebaran titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan terus meningkat. Sejak Januari-Juli 2017,  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mencatat sebaran hotspot mencapai 269 titik.

Pelaksana tugas Kepala BPBD Sumsel, Iriansyah, mengatakan, tren peningkatan titik panas mulai terlihat sejak Maret. Pada bulan ketiga itu, terdapat 22 titik panas.

Jumlahnya naik jadi 26 titik pada April. Periode Mei dan Juni masing-masing 61 dan 92 titik panas. "Bulan Juli, sampai tanggal 26 tercatat sekitar 55 titik panas,” katanya usai memantau langsung kondisi kebakaran lahan di Sumsel, Kamis, 27 Juli 2017.

Daerah yang paling mendominasi terjadinya Karhutla yakni di daerah Ogan Komering Ilir dengan 61 titik. Disusul Penukal Abab Lematang Ilir dengan 35 titik, kemudian di Musi Banyuasin 34 titik.

Mayoritas karhutla disebabkan pembakaran lahan. Namun, Iriansyah mengakui tidak mengetahui berapa banyak yang sudah ditangkap.

“Penangkapan oknum ini dilakukan oleh pihak keamanan seperti kepolisian,” terangnya.

Saat ini pihaknya terus berupaya untuk mencegah dan memadamkan karhutla. Bahkan, pihaknya beberapa kali melakukan water boombing dengan tiga helikopter bantuan BNPB.

Sejak 5 Juni hingga kemarin, water boombing dengan helikopter Bolkow 105 P-EAJ sebanyak 75.000 liter. Sedangkan helikopter Mi-17 sebanyak 536.000 liter dan 696.000 liter. "Lalu heli Mi8 EY-222 sebanyak 868.000 liter,” ujarnya.

Pihaknya juga menempatkan 50 pos terpadu untuk mengamankan dan mencegah terjadinya karhutla. Pos terpadu menyebar di beberapa titik seperti 13 pos di Musi Banyuasin ada 13 pos terpadu dan 12 pos di Ogan Komering Ilir.

Personel siaga karhutlah sebanyak 1.350 orang terdiri dari gabungan TNI, Polri, Kehutanan, Tagana, Manggala Agni, Pramuka, SAR, Perkebunan, Perusahaan Perkebunan, BPBD serta instansi lain.

“Kami berharap tahun ini karhutla dapat dicegah dan diantisipasi sehingga tidak terjadi bencana kabut asap,” pungkasnya.


(SAN)