14 Orang Ditetapkan Tersangka Karhutla di Riau

Anwar Sadat Guna    •    Senin, 04 Sep 2017 14:58 WIB
kebakaran lahan dan hutan
14 Orang Ditetapkan Tersangka Karhutla di Riau
Petugas Pemadam Kebakaran memadamkan kebakaran lahan di Pekanbaru, Riau, Rabu (30/8). Kencangnya angin dan sulitnya akses masuk ke lokasi yang terbakar membuat petugas sempat kewalahan untuk memadamkan api. ANTARA FOTO/Rony Muharrman

Metrotvnews.com, Pekanbaru: Kepolisian Daerah (Polda) Riau menetapkan 14 orang sebagai tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Dari 14 tersangka itu, terbanyak ada di Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan. 

"Dari 15 kasus karhutla di Riau dalam kurun tiga bulan terakhir, 14 orang ditetapkan tersangka. Umumnya para tersangka tertangkap saat melakukan pembakaran dan setelah melakukan pembakaran hutan dan lahan di lokasi," ungkap Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Guntur Aryo Tejo kepada Metrotvnews.com, Senin, 4 September 2017.

Dari ke-14 tersangka, kata Guntur, satu berkas perkara tersangka sudah dinyatakan lengkap atau P-21, satu berkas perkara tahap 1, ada dua tersangka belum tertangkap, dan 11 lainnya saat ini masih dalam penyidikan.

"Seluruh tersangka adalah perorangan karena tertangkap oleh tim patroli melakukan pembakaran, tidak ada korporasi atau perusahaan," tegas Guntur. Adapun jumlah total area hutan dan lahan yang terbakar mencapai sekira 90 hektare.

Seluruh lahan yang terbakar, sambung perwira tiga melati ini, sedang dalam status quo. Polisi telah memasang tanda dan police line untuk kepentingan penyelidikan. "Lahan-lahan maupun hutan yang terbakar kami police line. Tidak ada yang boleh masuk ke kawasan tersebut," ungkapnya. 

Guntur menambahkan, sampai saat ini Tim Satgas Karhutla maupun tim patroli di tingkat wilayah hingga kecamatan terus melalukan patroli untuk memantau situasi di berbagai lokasi rawan karhutla. Tim patroli ini melibatkan unsur TNI-Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Bhabinkamtibmas, dan instansi terkait.

"Jika tim patroli menemukan kebakaran lahan dan susah diatasi sendiri, maka tim akan meminta bantuan Satgas Karhutla atau Lanud Pekanbaru untuk melakukan pemadaman," ujarnya. 

Pemadaman yang dilakukan, tambah Guntur, dengan dua cara yakni water bombing dan modifikasi cuaca. Adapun modifikasi cuaca yakni dengan cara menaburkan garam pada awan-awan yang berpotensi menimbulkan hujan. 

"Dua cara atau metode ini yang paling sering digunakan untuk memadamkan api agar tidak semakin meluas ke tempat lain," tambahnya. Untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya kebakaran, terang Guntur, perusahaan diimbau agar memasang CCTV. 

"Pemasangan CCTV ini berjarak sekira 3 kilometer (km), bisa juga lebih. Sudah ada beberapa perusahaan yang telah memasang CCTV untuk memantau kegiatan dan aktivitas di kebun mereka," ujarnya.


(ALB)