Sekolah Lima Hari Dikhawatirkan Ganggu Kejiwaan Siswa

Farida Noris    •    Kamis, 15 Jun 2017 14:04 WIB
pendidikan
Sekolah Lima Hari Dikhawatirkan Ganggu Kejiwaan Siswa
Ilustrasi. Foto: MTVN/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Medan: Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang menerapkan sekolah lima hari menuai polemik. Jam belajar yang ditambah menjadi 8 jam per hari dikawatirkan mengganggu kejiwaan dan psikologi para siswa.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Provinsi Sumut Mustafa M. Amin mengatakan, idealnya siswa belajar di sekolah cukup enam jam per hari. Lebih dari enam jam akan memengaruhi kondisi kejiwaan siswa. 

"Misalnya anak SD. Anak memang anak tidak bilang tidak senang belajar hingga sore di sekolah, tetapi yang keluar dari si anak tadi yaitu sifat marah, menangis, bolos sekolah, dan lainnya. Tanda-tanda itu muncul perlu diperhatikan secara khusus," jelasnya.

Menurut Mustafa, dengan diberlakukannya kebijakan ini, para guru hendaknya jangan melakukan proses belajar secara monoton. Jika itu dilakukan, si anak akan merasa tertekan.

"Orangtua kurang memberikan pola asuh, membuat anak tak akan siap mentalnya. Kebijakan ini juga akan berdampak kepada gurunya yang harus beradaptasi dengan waktu," ungkapnya.

Kebijakan itu, menurut Mustafa, harus dipikirkan matang sebelum diberlakukan oleh pemerintah. Seperti melibatkan pakar pendidikan, dokter spesialis jiwa, psikolog sebelum menerapkan sekolah lima hari dengan jam belajar hingga 8 jam.

"Pemerintah diminta jangan mencoba-coba mengganti proses belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar (KBM). Tahun ajaran baru dilakukan sekolah lima hari, tapi dua sampai tiga tahun mendatang tak bagus diubah lagi kebijakannya ke awal," cetusnya.

Sementara, Direktur Minauli Consulting Irna Minauli mengatakan, ditinjau dari tahapan perkembangan anak usia 6-9 tahun masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di sekolahnya. Kalau beban pendidikan yang ditetapkan belum sesuai dengan kemampuan anak, dikhawatirkan dapat membuat anak mengalami ketakutan terhadap sekolah. 

"Kebijakan ini dapat membuat anak cenderung tidak menyukai sekolah. Jika beban sekolah dirasakan tidak menyenangkan, anak umumnya akan mengembangkan perilaku agresif sehingga mereka menjadi lebih nakal dan suka berkelahi. Jika pihak sekolah tidak menyikapi dengan baik, maka dikhawatirkan perilaku bullying di sekolah akan semakin meningkat," bebernya.


(ALB)