Korban Banjir Aceh Singkil Krisis Bahan Pokok

Amiruddin Abdullah Reubee    •    Selasa, 29 Nov 2016 17:25 WIB
bencana banjir
Korban Banjir Aceh Singkil Krisis Bahan Pokok
Rumah Terendam Banjir di Aceh, bebetapa waktu lalu. Foto: MI/Amiruddin Abdullah Reubee

Metrotvnews.com, Singkil: Warga korban banjir di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, krisis bahan makanan, obat obatan, dan pakaian. Banjir merendam Aceh Singkil selama tiga hari hingga Selasa 29 November 2016 ini.

Banjir besar akibat guyuran hujan dan luapan sungai di kawasan setempat ini telah melumpuhkan arus transportasi darat, perkantoran pemerintah, sekolah-sekolah, dan aktivitas masyarakat.

Di pusat Kota Singkil, banjir masuk ke dalam pertokoan dan tempat penjualan lainnya. Aktivitas jual beli yang biasanya ramai, sekarang sepi dan warung atau toko tutup.

Di Desa Keutapang Indah, Kecamatan Singkil Utara, jalan yang menghubungkan ibukota Singkil-Subulussalam-Banda Aceh, putus total dihantam air bah karena luapan sungai terdekat.

Masyarakat lebih banyak bertahan di rumah walaupun ketinggian air antara 50 sentimeter hingga satu meter. Ironisnya sejak Selasa pagi krisis bahan makanan dan pakaian sudah terjadi.

Baca: Banjir di Aceh Singkil Terparah Sejak 2000

Krisis terjadi karena stok beras di rumah warga ikut terendam. Untuk bertahan hidup para korban banjir harus mengonsumsi mi instan mentah.

Truk barang dan angkutan sembako dari luar daerah tertahan karena jalur menuju beberapa kecamatan di Singkil putus total.

"Di Desa Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara, saja dua ratusan lebih krisis bahan makanan" kata Tokoh Pemuda Aceh Singkil, Irwansyah, kepada Media Indonesia, Selasa (29/11/2016).

Baca: Hampir Seluruh Wilayah Aceh Singkil Terendam Banjir

Pemerintah Kabupaten Singkil sudah membangun dua dapur umum darurat di Kecamatan Singkil. Sayangnya, hal itu belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh korban banjir yang tersebar di delapan kecamatan.

Dikatakan Irwansyah, dari 11 kecamatan di Aceh Singkil, hanya tiga yang tidak terendam, yakni di Kecamatan Pulau Banyak, Pulau Banyak Barat, dan Kuala Baru.

Sisanya, sembilan kecamatan tergenang. "Ini banjir paling parah sejak 20 tahun terakhir" kata Irwansyah.

 


(UWA)