Jenazah Penyerang Polda Sumut Bisa Diambil Keluarga

Budi Warsito, Farida Noris    •    Rabu, 28 Jun 2017 12:42 WIB
penyerangan
Jenazah Penyerang Polda Sumut Bisa Diambil Keluarga
Karangan bunga di depan Mapolda Sumut, MTVN - Budi Warsito

Metrotvnews.com, Medan: Petugas telah mengotopsi jenazah AR, pelaku yang tewas saat menyerang Polda Sumatera Utara. Lantaran itu, Polda Sumut mempersilakan keluarga menjemput jenazah di RS Bhayangkara Polda Sumut.

Minggu dini hari, 25 Juni 2017, AR dan SP menyerang pos jaga Polda Sumut. Polisi mengadang mereka. Polisi melepaskan tembakan yang menewaskan AR. Sementara SP kritis dan menjalani perawatan di RS Bhayangkara.

"Jenazah pelaku sudah bisa diserahkan (ke keluarga), Kabid Dokkes tadi sudah laporan jenazahnya sudah siap," ujar Kapolda di Medan, Rabu 28 Juni 2017.

Total empat orang ditetapkan sebagai tersangka dalam penyerangan itu. Selain SP dan AR, dua tersangka lain kini diperiksa di Polda Sumut.

"Karena prosesnya sudah diserahkan ke Densus, kita akan tunggu dari Densus sampai tuntas pemeriksaannya. Kalau proses pemboyongan kan hanya proses penempatan saja. Yang paling penting kan mengungkap siapa saja yang terlibat," kata Kapolda. 
 
Penyerangan itu membuat anggota DPRD Sumut angkat suara. Anggota Dewan HM Nezar Djoeli mengatakan kepolisian kecolongan. Apalagi, kejadian itu memakan korban yaitu Ipda (anumerta) M Sigalingging.

Penyerangan tersebut menjadi pelajaran bagi kepolisian dan intelijen. Seharusnya, aparat tak lengah menghadapi aksi teror. 

"Personil yang disiagakan untuk pengamanan malam-malam hari besar keagamaan ataupun libur besar hendaknya lebih ditingkatkan. Agar kondisinya tetap fit terjaga sehingga tidak kecolongan dalam kondisi yang kurang fit dalam melakukan tugas," kata Nezar.

Anggota dewan lainnya, HM Hanafiah Harahap, pun mengatakan penyerangan itu perbuatan keji. Tindakan itu merusak kerukunan bermasyarakat. Aksi teror itu bertentangan dengan semua ajaran agama.

"Sumut telah cukup lama menjadi sasaran teror-teror dan kejahatan massive lainnya. Selain itu, jajaran keamanan kita harus jujur bersikap, bahwasanya penyerangan itu adalah kelicikan pelaku di saat petugas kita lengah, dan pelaku tahu hal itu. Ini harus jadi peristiwa terakhir dan tak boleh berulang," bebernya.


(RRN)