Polisi Berterima Kasih Massa Aksi Bisa Redam Konflik

Budi Warsito    •    Sabtu, 05 Nov 2016 16:17 WIB
unjuk rasa
Polisi Berterima Kasih Massa Aksi Bisa Redam Konflik
Suasana aksi damai di Medan, Sumatera Utara. Foto-foto: Metrotvnews.com/Budi

Metrotvnews.com, Medan: Jajaran Polrestabes Medan berterima kasih atas partisipasi ribuan massa Solidaritas Islam dari berbagai organisasi di Medan dalam menjaga kelancaran dan ketertiban saat menyampaikan aspirasinya, Jumat 4 November 2016. 

Massa tetap menjaga situasi aman dan terkendali. Selain itu, tidak ada bentrok, pengerusakan, dan hal lain yang menimbulkan kericuhan. Sehingga aksi damai berjalan tertib.

"Sangat perlu kami sampaikan bahwa aksi menuntut Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ditangkap atas dugaan penistaan agama yang telah berlangsung beberapa kali di Medan dan puncaknya 4 November berlangsung sangat aman, tertib dan kondusif. Kami mengucapkan terima kasih ke ormas Islam seperti FUI, IMM, Hidayatullah, HMI, Pemuda Muhammadiyah, Majelis Mujahidin Indonesia Sumut, Muhammadiah Deli Serdang, Alwasliyah Sumut, Peta Sumut dan ICMI Sumut," ujar Kapolrestabes Medan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, Sabtu (5/11/2016).


Aksi tak menimbulkan ketakutan

Mardiaz juga berterima kasih kepada seluruh jajarannya yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sehingga dapat mengawal kegiatan yang juga berlangsung di seluruh penjuru tanah air ini.

“Kepada seluruh rekam-rekan Kabag, Kapolsek dan Kasat, saya ucapkan terima kasih, sampaikan kepada seluruh anggota bahwa pengamanan aksi unjuk rasa dapat berjalan aman dan lancar,” kata Mardiaz.

Namun, dirinya tetap mengimbau seluruh personelnya untuk tetap siap siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kembali bertugas memberikan pengamanan dan pengawalan jika ada aksi susulan.

Rumah Gerakan 98 Kritisi Aksi Damai 

Sementara itu, Rumah Gerakan 98 mengkritisi aksi damai yang berujung bentrokan antara aparat keamanan dengan demonstran pada 4 November kemarin, di Jakarta.

"Harus menjadi pembelajaran agar segala persoalan diserahkan ke ranah hukum.
 Kami menghargai aspirasi dari massa yang berunjuk rasa pada Jumat, 4 November 2016. Namun, kami menyayangkan jika peristiwa ini ada yang menunggani aktor politik. Seharusnya mereka mempercayakan penanganan kasus tersebut ke ranah hukum," kata juru bicara Rumah Gerakan 98, Sayed Djunaidi.

Sayed melihat proses berlangsungnya aksi unjuk rasa yang sudah mengarah kepada tindakan makar itu membungkus kepentingan politik terselubung atas nama kasus dugaan penistaan agama.

"Sesungguhnya, unjuk rasa puluhan ribu orang itu untuk menjatuhkan Presiden Joko Widodo. Ini adalah bughot tindakan makar. Tindakan makar ini diperkuat dengan orasi massa aksi yang menyerukan penurunan Presiden Joko Widodo dan telah berubah menjadi anarkistis," kata dia.

Rumah Gerakan 98 mengutuk segala bentuk aksi kekerasan oleh mereka yang antidemokrasi. "Semua elemen masyarakat jangan terpancing dengan isu SARA. Tokoh masyarakat, ulama, dan para rohaniawan dari berbagai lintas agama, pemuda, serta akademisi bisa bekerja sama menciptakan situasi kondusif di lingkungan masing-masing," kata dia.

Tidak hanya itu, ia mengingatkan kepada pimpinan MPR dan DPR untuk tidak mengajak dan memberikan ruang gedung MPR dan DPR untuk diduduki demonstran.



(UWA)