Wilayah Batam Miliki Karakter Favorit Penyelundup

Anwar Sadat Guna    •    Jumat, 23 Mar 2018 06:00 WIB
pelabuhan
Wilayah Batam Miliki Karakter Favorit Penyelundup
Salah satu kawasan pantai di wilayah Batubesar, Nongsa, Batam, menjadi pintu masuk pemulangan dan pengiriman TKI ilegal ke Malaysia, Rabu, 21 Maret 2018. Foto: Medcom.id/Anwar Sadat Guna

Batam: Kepolisian Daerah (Polda) Kepri memberikan atensi pada pelabuhan ilegal sebagai jalur masuk barang-barang ilegal dari luar negeri. Kepolisian memberikan pengawasan ekstra karena pelabuhan ilegal di Batam tidak sedikit.

"Kami berkoordinasi dengan pihak terkait, dalam hal ini pemerintah daerah karena ada beberapa di antaranya merupakan pelabuhan rakyat," ungkap Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi, Rabu, 21 Maret 2018.

Keberadaan pelabuhan ilegal diakui rawan dimanfaatkan oleh penyelundup memasukkan barang ilegal. Apalagi karakter wilayah Batam yang merupakan kepulauan. Hal ini menyebabkan penyelundup mencari jalur untuk memasukkan barang tanpa terpantau petugas.

"Sekali lagi, kami sangat setuju dengan rencana pemerintah yang akan menutup puluhan pelabuhan ilegal di Batam," tegas Didid kepada wartawan.

Idealnya, kata Didid, pelabuhan di Batam terpusat hanya di beberapa tempat saja. Supaya pengawasannya lebih mudah.

Beberapa kejahatan yang berpotensi terjadi di pelabuhan ilegal mulai dari penyelundupan barang, narkoba, hingga perdagangan manusia.

(Baca: Kapolda Kepri Dukung Penutupan Pelabuhan Ilegal di Batam)

Sementara, pengamat ekonomi Kota Batam, Suyono Saputra mengatakan, pemerintah harus serius merealisasikan rencananya menutup sekitar 70 pelabuham ilegal di Batam. Bukan hal baru bila Batam memiliki banyak jalur tikus.

"Terutama bahwa pelabuhan tersebut menjadi jalur atau pintu masuk barang-barang impor ilegal yang notabene merugikan industri di Tanah Air," ungkap Suyono kepada Medcom.id, Kamis, 22 Maret 2018.

Rencana pemerintah ini memiliki banyak manfaat dan kontribusi. Sebagai kawasan industri dan free trade zone (FTZ), idealnya Batam memiliki dua atau tiga hingga empat pelabuhan resmi.

(Baca: Puluhan Pelabuhan di Batam akan Ditutup)

"Pelabuhan Batuampar dan dua pelabuhan di Kabil dapat digunakan sebagai pelabuhan ekspor-impor, sedangkan Pelabuhan Sekupang dapat dijadikan pelabuhan bongkar muat barang dalam negeri, termasuk kapal yang membawa kebutuhan sembako untuk pulau-pulau sekitar Batam," urainya.

Banyak 'pelabuhan tikus' ternama

Beberapa pelabuhan ilegal di Batam sudah lama dikenal sebagai pintu masuk barang ilegal dari luar negeri, terutama Singapura. Modusnya, penyelundup menggunakan kapal kayu berbobot antara 300-500 ton membawa berbagai barang ilegal dan berlayar pada malam hari.

Penyelundup memilih waktu tengah malam agar terhindar dari pantauan maupun patroli aparat.

Beberapa pelabuhan itu, di antaranya pelabuhan tikus Tanjungsengkuang, Kec Batuampar dan pelabuhan tikus di Seilekop, Kec Sagulung, Kota Batam. Pelabuhan ini sudah cukup dikenal sebagai pintu masuk barang ilegal.

Pelabuhan tikus di Tanjungsengkuang, misalnya, sudah sejak lama digunakan pemilik kapal sebagai jalur masuk barang ilegal. Dua pengusaha di Batam, inisial HT dan HP sudah tak asing lagi dan dikenal sebagai penguasa di pelabuhan tersebut.

"Pengusaha HT sudah tidak melakukan aktivitas (membawa barang muatan impor) lagi. Kalau HP masih, tetapi itu pun tidak sebanyak dulu lagi. Paling sekarang sekali atau dua kali," ungkap sumber kepada Medcom.id.

Wilayah pelabuhan Tanjungsengkuang memang berada di sekitar pesisir pantai Kec Batuampar. Lokasinya terbilang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan negara tetangga, Sungapura.

"Untuk memasukkan barang, penyelundup sudah tahu jalur mana yang akan digunakan. Namun akhir-akhir ini petugas gencar melakukan patroli. Tidak sedikit kapal yang membawa barang impor ditangkap karena tak memiliki dokumen," ungkap sumber tersebut.  

(Baca: Koarmabar Tangkap Tiga Kapal Bermuatan Ilegal di Batam)

Pelabuhan lainnya yakni Seilekop, di Kecamatan Sagulung. Bahkan, Rabu, 21 Maret 2018 kemarin, tiga kapal pengangkut barang ilegal ditangkap Tim Gabungan Western Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV dan Lanal Batam.

 


(SUR)