Enam Orang Jadi Tersangka Penyelundupan 12 Ton Obat Diduga PCC

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 20 Sep 2017 19:25 WIB
pil maut pcc
Enam Orang Jadi Tersangka Penyelundupan 12 Ton Obat Diduga PCC
kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian memegang barang bukti bahan baku obat terlarang, MTVN - Anwar

Metrotvnews.com, Batam: Kepolisian Daerah (Polda) Kepri bersama Polres Bintan menetapkan enam tersangka kepemilikan dan penyelundupan 12 ton obat ilegal. Diduga obat mengandung bahan Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol (PCC).

Keenam tersangka tersebut, masing-masing berinisial; MA, RS alias FE, BH alias T, EA, LS, dan BA. Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian mengatakan, keenam tersangka memiliki peran masing-masing untuk menyelundupkan barang ke Jakarta.

Peran mereka, ungkap Sam, yaitu; tersangka MA sebagai pemilik barang (obat ilegal); tersangka RS alias F adalah orang yang dipercaya oleh MA untuk mengirim obat ilegal tersebut dari Singapura via Batam-Bintan ke Jakarta; tersangka BH alias T, orang kepercayaan tersangka FE untuk mengangkut barang dari gudang Bina Uma, Batuaji, Kota Batam, ke gudang Tiban Mas Asri, Sekupang, Kota Batam.

Selanjutnya tersangka EA adalah orang kepercayaan tersangka FE untuk mengangkut barang dari Batam-Bintan ke Jakarta; adapun tersangka LS merupakan orang kepercayaan tersangka EF yang menerima barang di gudang Tiban Mas Asri, Kota Batam; dan tersangka B berperan membawa barang dari gudang Tiban Mas Asri ke pelabuhan tikus Telagapunggur, Batam menuju Pelabuhan Pasar Baru Tanjunguban.

"Dari Pelabuhan Pasar Baru Tanjunguban, bahan baku obat-obatan terlarang (sediaan farmasi) dan psikotropika tersebut selanjutnya dibawa menuju ke Pelabuhan Sribayintan, Kijang, Kabupaten Bintan untuk selanjutnya dibawa ke Jakarta," ungkap Sam kepada wartawan di Polres Bintan, Rabu, 20 September 2017. 

Sam mengutarakan, penyelundupan bahan baku obat ilegal tersebut berhasil digagalkan jajaran Polres Bintan, pada akhir Agustus 2017. Saat itu, sekira pukul 08.30 WIB, polisi mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa akan ada pengiriman obat-obatan dari Batam ke Jakarta melalui Pelabuhan Sribayintan, Kijang, Kabupaten Bintan.

"Kemudian pada Sabtu, 2 September 2017 sekira pukul 09.00 WIB, anggota Reskrim Polsek Bintan Timur yang dipimpin Kapolsek Bintan Timur AKP Abdul Rahman dan Kanit Reskrim Polsek Bintan Timur Ipda Anjar Rahmad Putra mengamankan 2 unit truk di depan gudang PT Multi Trasindo Cabang Kijang," papar Sam. 

Saat diperiksa, sambung Sam, di dalam dua mobil truk itu terdapat drum yang berisikan serbuk warna putih. BN selaku pembawa barang diperiksa polisi. Ia mengaku bahwa serbuk tersebut adalah bahan baku obat dan masih ada satu truk lagi yang berada di pelabuhan tikus Tanjunguban.

BN juga mengaku bahwa pemilik barang tersebut berada di Batam, berinisial LA. "Polisi langsung lakukan pengejaran dan menangkap LA di Batam. Dari keterangan LA, ia mengakui disuruh oleh EF. Tak lama berselang, EF juga berhasil ditangkap di Batam. Tersangka LA juga mengakui bahwa yang mengantar barang ke gudang adalah TN," ungkap Sam, didampingi Dirresnarkoba Polda Kepri Kombes Pol Helmy Santika, Kapolres Bintan, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga, dan jajaran..

Pemeriksaan berlanjut. Dari keterangan tersangka EF dan TN bahwa mereka disuruh oleh seseorang bernama FE yang berada di Jakarta untuk mengirimkan barang itu ke Jakarta. "Pada Minggu, 10 September 2017, polisi berhasil menangkap FE di Jakarta. Saat kami periksa, ia mengaku bahwa pemilik barang itu adalah saudara MA," jelas Kapolda.

Total seluruh barang bukti yang disita dari tiga truk yakni 480 drum berwarna biru berisi serbuk putih diduga bahan baku obat-obat terlarang. 

Hasil pemeriksaan dan pengembangan atas kasus tersebut, termasuk uji laboratorium oleh instansi berwenang, bahan baku obat terlarang dan psikotropika itumengandung, dextromethorphan hydrobromide ph.eur, trihexyphenidil hydrocloride bp, carisoprodol, diazepam, dan Sertraline.

Sam menambahkan, total berat ke-480 drum berisi serbuk putih diduga bahan baku obat terlarang tersebut mencapai 12 ton. Adapun rinciannya, satu drum rata-rata seberat 25 kg. Saat dilakukan uji laboraturium di Labkrim Mabes Polri, didapati dua drum mengandung psikotropika golongan IV jenis ziadepam dengan berat sekira 50 kg.

"Salah satu jenis bahan baku yang diamankan yakni carisoprodol, merupakan bahan baku obat PCC (Paracetamol, Caffein, dan Carisoprodol) yang saat ini tengah viral yang sudah memakan korban jiwa di Kendari, Sulawesi Tenggara," ungkap Sam. 

Adapun pasal yang disangkakan, yakni Pasal 197 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukuman yakni 15 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar. Pasal 61 dan 62 UU RI Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. "Ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta," pungkas Sam.


(RRN)