Populasi Orang Utan di Sumatera Terancam

Farida Noris    •    Rabu, 07 Feb 2018 15:19 WIB
binatang langka/hewan langka
Populasi Orang Utan di Sumatera Terancam
Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari -Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) Panut Hadisiswoyo

Medan: Konflik manusia dengan orang utan di wilayah Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh masih tinggi. Ancaman perburuan liar dan perambahan hutan yang kian tinggi menyebabkan populasi orang utan kian terancam.

"Tren konflik manusia dengan orang utan di Aceh dan Sumut hampir sama. Tapi di Aceh Tamiang dan Aceh Selatan merupakan konflik tertinggi," kata Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari -Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) Panut Hadisiswoyo, Rabu, 7 Februari 2018.

Panut menyebutkan pada 2017, terjadi 103 perburuan, 28 pembalakan liar, 128 jerat, 21 perambahan hutan, 21 gubuk dan hanya 8 pelaku yang berhasil ditangkap. Jumlah itu cenderung naik jika dibandingkan tahun sebelumnya yakni, 87 perburuan, 27 pembalakan liar, 34 jerat, 22 perambahan, 28 gubuk dan 8 pelaku.

"Selama 2017, kami berhasil merescue 23 orang utan di Aceh- Sumut masing-masing 15 evakuasi dan 8 penyitaan. Sedangkan di 2016 ada 29 orang utan yang berhasil direscue melalui penyitaan," pungkas Panut.

Menurut Panut, orang utan liar tidak mungkin menyerang dan mengadang manusia. Apalagi orang utan sangat menghindari keberadaan manusia.

60 persen orang utan yang diselamatkan ada peluru di tubuhnya. Target perburuan biasanya untuk mendapatkan anak orang utan diburu dan dijual. 

"Jadi sangat langka kalau ada orang utan yang menyerang manusia. Semakin tinggi pembukaan tutupan hutan, maka semakin tinggi perburuan. Pemburu itu tidak spesialiasi, misalnya dia memburu orang utan, dia pasti memburu hewan dilindungi lainnya," urai Panut.

Panut mengakui ada tim monitoring secara intensif orang utan terisolasi seperti di Batang Serangan Dan Sei Lepan, Langkat. Namun ada kondisi tertentu yang menyebabkan evakuasi tidak dapat dilakukan. Banyak satwa yang tidak bisa diselamatkan karena ada proses konversi serta jangkauan yang sangat luas.

"Harapannya, kita tidak hanya melihat aspek rescuenya saja, tapi juga akar persoalannya. Kalau hutan tidak bisa dipertahankan, maka akan terjadi konflik-konflik berikutnya. Ancaman masih ada, jaringan pemburu juga sangat luas. Pekerjaan yang berat adalah mempertahankan habitatnya," bebernya. 



(ALB)