Konservasi TWNC Terancam Akibat Tambak Ilegal

Haifa Salsabila    •    Jumat, 29 Dec 2017 23:25 WIB
nelayan ilegal
Konservasi TWNC Terancam Akibat Tambak Ilegal
Pembukaan jalan untuk tambak yang membabat habis areal konservasi kehutanan di lokasi. (Istimewa)

Lampung: Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung, terancam lantaran adanya pembukaan 30 hektar tambak tak jauh dari lokasi konservasi hutan dan cagar alam laut tersebut. Pembukaan tambak illegal itu dinilai dapat berdampak pada kelestarian kawasan hutan dan cagar alam laut di sekitarnya.

"Setelah dilakukan penyidikan oleh Polda Lampung diketahui bahwa perusahaan tidak memiliki izin lingkungan untuk melakukan kegiatan usaha tambak dan diduga bertentangan dengan tata ruang Pemda," ungkap Direktur TWNC Willyam, Jumat 29 Desember 2017.

Willyam menuturkan, pembukaan tambak di Desa Enclave Way Haru, Kabupaten Pesisir Barat, Provisi Lampung ditemukan oleh patrol TWNC. Pihaknya kemudian melaporkan temuan tersebut kepada Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) yang dilanjutkan kepada Polda Lampung.

Hasil temuan di lapangan membuktikan adanya aktivitas illegal di bagian utara kawasan kolaborasi TNBBS dan TWNC yakni seperti jerat, bekas cacaran, kebun dalam kawasan dan camp pemburu yang masih aktif. Sebagian besar jerat yang ditemukan, ungkap Willyam, dapat digunakan untuk menangkap satwa langka seperti rusa, harimau, dan badak.

"Penelusuran tim patroli sampai ke Desa Enclave Way Haru yang berada di kawasan taman nasional. Pada camp yang ditinggalkan oleh pemburu ditemukan alat komunikasi dan barang bukti foto pemburu," tutur Willyam.

Willyam menuturkan, pihaknya juga menemukan pembukaan dan pelebaran jalan antara Way Haru dan Way Heni. Sebelumnya, jalan tersebut hanya diperuntukkan sebagai jalur patroli. Namun kini telah diubah menjadi jalan lintas permanen yang digunakan sebagai jalur mobilisasi alat berat kegiatan tambak di Way Haru. Di sepanjang jalan tersebut, ditemukan pula berbagai aktivitas ilegal seperti gubuk, jalur ilegal, dan perambahan kawasan.

"Mulainya aktivitas pembukaan tambak seiring dengan adanya peningkatan temuan aktivitas ilegal dalam kawasan," terang Willyam.

Hal ini, tutur Willyam, akan mengakibatkan kegiatan pemburuan satwa di kawasan tersebut meningkat dengan sistem yang kian rapi dan terorganisir. Tak hanya satwa dengan ukuran besar seperti harimau, namun satwa ukuran kecil seperti burung pun tak luput menjadi target.

"Temuan ini mengindikasikan semakin banyak orang–orang yang bebas keluar masuk kawasan konservasi. Jika dibiarkan, berakibat penurunan populasi satwa terutama satwa langka di dalam kawasan," kata Willyam.

Willyam mempertanyakan peran pemerintah terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah berkomitmen untuk menjaga lingkungan dan memerangi perusakan lingkungan.

"Dengan kejadian ini maka nampaknya komitmen tersebut hanya sebatas ucapan dan retorika belaka karena kenyataan tidak sama dengan harapan atau janji dan lemahnya tindakan terhadap orang-orang yang melakukan pengerusakan lingkungan," pungkas dia.


(LDS)