Penyebar Ujaran Kebencian terhadap Ibu Negara Dibekuk di Palembang

Octavianus Dwi Sutrisno, Alwi Alim    •    Selasa, 12 Sep 2017 18:44 WIB
pencemaran nama baik
Penyebar Ujaran Kebencian terhadap Ibu Negara Dibekuk di Palembang
Rumah pelaku penyebaran ujaran kebencian di Palembang terhadap Ibu Negara, MTVN - Alwi Alim

Metrotvnews.com, Palembang: Polisi membekuk penyebar ujaran kebencian terhadap Ibu Negara Iriana Jokowi di Palembang, Sumatera Selatan. Ujaran itu tersebar di media sosial.

Penangkapan dilakukan di sebuah rumah di Jalan Jepang, Palembang. Polisi membekuk tersangka sekira pukul 21.30 WIB, Senin 11 September 2017.

"Penangkapan langsung dilakukan oleh Polresta Bandung. Polda Sumsel hanya membantu," kata Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Sumsel, AKBP Yoce Marten, Selasa 12 September 2017.

Tersangka berinisial DI. Warga Palembang itu dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 27 Ayat 3 atau Pasal 28 Ayat 2 Tahun 2008 tentang pencemaran nama baik. DI menggunakan sosial media untuk menyebarkan pernyataan yang dianggap mencemarkan nama baik Ibu Negara.


(DI, tersangka penyebar ujaran kebencian terhadap Ibu Negara, digiring ke Polda Jabar, MTVN - Octavianus)


"Makanya kami berharap masyarakat menggunakan Media Sosial (Medsos) dengan bijak," pungkas Yoce.

Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan oenanglapan dilakukan setelah mendapat informasi dari Patroli Cyber. Menurut Kapolda, tersangka beberapa kali mengunggah ujaran kebencian di sosial media.

Agung menerangkan pengungkapan kasus bermula saat polisi menangkap seorang wanita asal Bandung, Jabar, berinisial DW. Di akun instagramnya, DW mengungkapkan pernyataan yang dinilai melecehkan nama istri Presiden RI Joko Widodo.

"Setelah diidentifikasi, ternyata DW bukan pemilik akun tersebut," kata Agung di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung.

DW mengaku akun itu dibuat dan digunakan seorang pria asal Palembang. DI merupakan warga Palembang.

"Dia hanya di-tag (istilah dalam Instagram) saja, sedangkan pelaku aslinya adalah DI. Dia dan tersangka selama ini hanya berhubungan lewat dunia Maya seperti chat dan video call," bebernya.

Mendapatkan informasi tersebut, polisi langsung melakukan pengejaran dan berhasil menangkap DI di Palembang. Penangkapan, kata Agung, dilakukan untuk menghindari gangguan keamanan menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah di Jabar dan Sumsel tahun depan.


(RRN)