Bawang & Rokok Dominasi Penyelundupan di Selat Malaka

Hendri Kremer    •    Rabu, 14 Sep 2016 12:40 WIB
penyelundupan
Bawang & Rokok Dominasi Penyelundupan di Selat Malaka
Anggota Ditpolair Polda Jambi (kanan) menanyai tersangka penyelundup bawang merah (kiri) di samping barang bukti bawang merah selundupan yang diamankan di tepian Sungai Batanghari, Kasang, Jambi, Rabu (1/6/2016). Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Metrotvnews.com, Kepri: Komoditas bawang dan rokok mendominasi penyelundupan barang di Selat Malaka selama 2016. Dari hasil Patroli Terkoordinasi Kastam Indonesia Malaysia (Patkor Kastima) selama April hingga Juli dengan sandi Gerhana tercatat ada 77 kasus penindakan.

"Nilainya mencapai Rp47,6 miliar. Sebanyak 36 kasus merupakan kasus penyelundupan impor barang merah seberat 886 ton dan 10 kasus penyelundupan rokok sebanyak 15,3 juta batang," kata Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Kanwil Bea dan Cukai Khusus Kepri R. Evy Suhartantyo, baru-baru ini.

Menurutnya, total kerugian negara dari penyelundupan itu sebesar Rp14,7 miliar. 

Pengungkapan kasus penyelundupan itu, kata Evy, tak lepas dari eratnya kerja sama Indonesia dan Malaysia melaksanakan Patkor Kastima. 

"Hasil kerja sama ini amat kami rasakan, terutama saat menggelar operasi Gerhana. Tidak sedikit hasil dari tangkapan kami merupakan hasil tukar menukar informasi," kata dia.

Sejauh ini, Patkor Kastima sudah dilakukan sebanyak 22 kali sejak 2012. Pada periode 2012 hingga 2015, operasi Patkor Kastima telah menindak 32 kasus penyelundupan bahan makanan pokok, barang elektronik, ballpress, barang campuran (elektronik, kendaraan bermotor, dan kosmetik), ammonium nitrat, ekspor timah, kayu, hasil laut, serta narkotika dan psikotropika. 

Operasi ini juga melahirkan sejumlah teknik dan pengayaan informasi. 


TNI AL menangkap kapal penyelundup barang ilegal di wilayah Kepulauan Riau. Foto: Antara/MN Kanwa

Di tempat terpisah, Kakanwil DJBC Khusus Kepri, Parjiya, mengatakan, dari hasil operasi yang dilakukan, nantinya akan ditindaklanjuti dengan menyampaikan kepada instansi terkait untuk melakukan perbaikan pola distribusi dan suplai atas berbagai kebutuhan pokok yang diperlukan masyarakat. 

"Khususnya di daerah-daerah yang tingkat ketergantungan pada barang impornya tinggi," kata dia.

Patkor Kastima ke-22 melibatkan unsur kapal patroli berupa 2 speed boat, 5 fast patrol boat 28 meter, dan 1 fast patrol boat 60 meter. Sedangkan armada Kastam Malaysia diperkuat dengan 4 kapal perantas dan 6 kapal penumpas. 

Di wilayah Indonesia, kapal-kapal tersebut beroperasi di lima sektor, mulai dari perairan Kuala Langsa, Belawan, Tanjung Balai Asahan, Tanjung Sinaboy, Tanjung Parit, hingga Batam. 

Adapun di wilayah Malaysia, sektor operasi dimulai dari perairan Langkawi, Pulau Pinang, Lumut, Pelabuhan Klang, Port Dickson, Muar, hingga Sungai Pulai.

 


(UWA)