Mantan Teroris Yakin IAH Terhubung ke Kelompok Besar

Farida Noris    •    Rabu, 31 Aug 2016 18:05 WIB
bom bunuh diri
Mantan Teroris Yakin IAH Terhubung ke Kelompok Besar
?Mantan narapidana perkara terorisme, Khairul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, di Pesantren Darusy Syifa di Dusun IV Desa Sei Mencirim Kecamatan Kutalimbari, Deliserdang, Sumut, Rabu (31/8/2016). Foto: Metrotvnews.com/Farida

Metrotvnews.com, Medan: Mantan narapidana terorisme, Khairul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, yakin IAH, 17, tersangka percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan, bukan pelaku tunggal. Aksi IAH bahkan diduga melibatkan jaringan besar yang masih berkeliaran. 

"Saya tidak sepakat kalau ada yang mengatakan IAH bermain sendiri. Jadi, IAH itu bukan pemain tunggal. Ada kelompok besar di Medan yang ada di belakangnya," kata Khairul saat ditemui di Pesantren Darusy Syifa di Dusun IV Desa Sei Mencirim Kecamatan Kutalimbari, Deliserdang, Sumut, Rabu (31/8/2016).

Khairul Ghazali telah menemui IAH di Mapolresta Medan pada Senin 29 Agustus. Saat itu, IAH menyebut sejumlah nama termasuk Bahrun Naim yang merupakan kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah yang telah berbaiat ke ISIS.

"Saya ketemu langsung sama IAH di Polresta. Saya tanya dia belajarnya dengan siapa dan dari buku apa? Ternyata dia mendapat pengajaran di Setia Budi Medan dan dari media sosial. Dia juga menyebut nama Bahrun Naim. Tidak mungkin anak seperti itu main sendiri dengan menyiapkan bahan-bahan peledak. Saya yakin dia terkait dengan jaringan besar," ucapnya.


Barang bukti yang disita dari IAH. Foto: Polresta Medan

Tak hanya itu, Ghazali mengaku telah melihat rekaman video IAH berbaiat kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi. Dalam rekaman yang disebutkan diperoleh dari penggeledahan di rumah IAH, remaja itu tampak memegang bendera ISIS. 

"Saya melihat sendiri rekaman itu. Rekaman video itu tampak goyang. Dalam rekaman itu, dia memegang bendera ISIS. Artinya ada pelaku lain. Ini kelompok yang besar. Mengenai pelaku diiming-imingi uang, itu mungkin biaya operasional saja dari mentornya," paparnya.

Ghazali merupakan mantan narapidana terorisme. Dia masih menjalani pembebasan bersyarat setelah menjalani hukuman 4 tahun 2 bulan dari vonis 6 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan pada 2011. Dia dinyatakan bersalah karena terlibat perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada 2010.


Gereja Katolik Stasi Santo Yosep. Foto: Metrotvnews.com/Farida

Sebelumnya, percobaan bom bunuh diri terjadi di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Medan, Minggu 28 Agustus pagi. Ledakan yang diduga bom berkekuatan rendah itu terjadi sekitar pukul 08.20 WIB saat Pastor Albert Pandiangan selesai membaca kitab suci. 

Saat itu tas ransel yang dibawa IAH meledak. Tersangka duduk di kursi barisan pertama. Ia kemudian lari ke altar membawa pisau dan kapak. Dia melompati tangga dan menghampiri Albert yang masih berada di mimbar. 

Albert turun dari mimbar, tetapi dikejar oleh IAH yang hendak mengampaknya. Pelaku yang sempat menusuk lengan kiri Albert kemudian ditangkap umat. Polisi yang tiba sesaat kemudian menyisir gereja. Pada pukul 10.10 WIB, Tim Penjinak Bahan Peledak Polda Sumut meledakkan bahan peledak yang masih tersisa di halaman gereja.
 


(UWA)