Korban Tsunami Aceh Tambah Bukti Ajukan Suntik Mati

Nurul Fajri    •    Kamis, 18 May 2017 16:37 WIB
pasca tsunami
Korban Tsunami Aceh Tambah Bukti Ajukan Suntik Mati
Berlin Silalahi, 46, yang mengajukan permohonan suntik mati ke Pengadilan Negeri Banda Aceh hanya bisa terbaring di kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Banda Aceh, Kamis 4 Mei 2017. --MTVN/Nurul--

Metrotvnews.com, Banda Aceh: Berlin Silalahi, korban penggusuran barak tsunami yang mengajukan permohonan euthanasia atau suntik mati, menjalani persidangan kedua, Kamis 18 Mei 2017.

Dalam sidang ini, kuasa hukum korban menyerahkan bukti-bukti tambahan pada hakim. Bukti tersebut berupa surat konsultasi korban dengan dokter spesialis terkait penyakit yang diderita Berlin selama ini.

Hakim Ngatimin, yang memimpin sidang, mengatakan agenda sidang kedua itu hanya menerima bukti-bukti tambahan dari kuasa hukum korban, Yusi Muharlina dan Mila Kusuma dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh. Hakim akan mempelajari bukti-bukti yang diberikan. Sementara sidang putusan akan dilangsungkan esok hari, Jumat 19 Mei 2017.

“Kalau tidak ada lagi bukti tambahan, sidang kita tunda sampai besok, putusannya,” tukas Ngatimin.

Baca: Ini Alasan Berlin Ajukan Suntik Mati ke Pengadilan

Berlin Silalahi mengajukan permohonan suntik mati setelah dia dan keluarganya digusur dari Barak Bakoy, Aceh Besar. Alasan lainnya karena penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh serta beban ekonomi yang menghimpit keluarga ini.

Selama persidangan, hanya kuasa hukum korban yang hadir. Sedangkan Berlin tidak hadir baik pada persidangan pertama maupun persidangan kedua.

Kuasa hukum korban, Yusi Muharlina mengatakan, bukti tambahan yang diajukan itu hasil pemeriksaan dokter spesialis terkait penyakit yang diderita Berlin Silalahi.

“Hasil pemeriksaan dokter spesialis, Berlin sakit Pneumonia, TB Tulang dan TB Paru akut,” jelas Yusi Muharlina.

Baca: Begini Kondisi Penampungan Sementara Korban Tsunami Yang Minta Suntik Mati

Saat ini, Berlin bersama istri dan anaknya masih berada di kantor YARA. Tidak hanya korban, sejumlah pengungsi lainnya masih berlindung di tempat tersebut karena mereka belum memiliki tempat tinggal yang jelas.

Pada sidang pertama, YARA mengajukan dua saksi yaitu Habibah dan Puspa Dewi. Keduanya merupakan tetangga korban saat tinggal di Barak Bakoy. 

Dalam kesaksiannya, keduanya mengaku Berlin ingin disuntik mati lantaran frustasi. Selain alasan ekonomi juga karena penyakit yang dideritanya membuat Berlin tidak bisa mencari nafkah.



(ALB)