Speedboat tak Dilengkapi Peralatan Keselamatan

Eko Prasetyo Jaya    •    Kamis, 04 Jan 2018 19:26 WIB
kapal tenggelam
Speedboat tak Dilengkapi Peralatan Keselamatan
Sejumlah petugas dari Basarnas tengah melakukan proses pencarian.

Palembang: Pencarian terhadap korban hilang akibat karamnya speedboat 'Awet Muda' di Perairan Tanjung Serai, Kamis, 4 Januari masih terus dilakukan. Pencarian mengerahkan tim gabungan dari Basarnas, Polisi Air (Polair), Dinas Kesehatan (Dinkes), Palang Merah Indonesia (PMI), serta warga sekitar. 

Kepala Kantor SAR Palembang, Toto Mulyono, mengatakan berdasarkan keterangan dari penumpang yang selamat, jumlah penumpang speedboat keseluruhannya sebanyak 55 penumpang. "Dua ditemukan tewas dan sudah dievakuasi tadi malam. Sementara, 11 lainnya masih dalam pencarian," ujar Toto.

Toto mengatakan ada kemungkinan korban yang hilang bertambah lantaran penumpang tidak saling kenal. "Data 11 penumpang yang hilang didapat dari keterangan-keterangan penumpang. Artinya berdasarkan ingatan saja. Tapi kami juga belum bisa memastikan," katanya. 

Sementara, jenazah dua penumpang yang tewas yakni Mulyono, 27, dan anaknya Bunga, 7, sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Penyerahan dilakukan langsung oleh Wakapolda Sumsel Brigjen Bimo Anggoro di ruang jenazah RS Bhayangkara.

Baca: Speedboat Karam di Banyuasin, 11 Orang Hilang

Dalam keterangan resminya, Bimo mengatakan tim saat ini masih mencari korban hilang. Situasi perairan yang dipenuhi hutan bakau membuat proses pencarian mengalami kesulitan. Selain itu, lokasi yang berbatasan dengan laut lepas menimbulkan ombak besar. 

"Kanan kiri lokasi dibatasi hutan bakau. Jadi medannya cukup sulit untuk melakukan pencarian," terangnya. 

Penumpang yang selamat dari tragedi itu sudah kembali ke rumah masing-masing. "Setelah mendapat perawatan, mereka dikembalikan ke pihak keluarga. Untuk jenazah korban meninggal dunia juga sudah kami serahkan," ucapnya. 

Faktor cuaca

Terkait penyebab kecelakaan, Bimo menuturkan jika faktor cuaca menjadi penyebab utamanya. Nakhoda juga tidak mengetahui kondisi cuaca saat melakukan pelayaran. Dari penyelidikan di lapangan dan keterangan saksi, kapal memang tidak memiliki peralatan keselamatan untuk situasi berbahaya seperti pelampung. Tapi, kondisi kapal masih layak jalan. 

"Penumpang yang selamat ini kebanyakan berpegangan pada jeriken yang mengapung," ungkapnya. 

Untuk mencegah hal serupa terjadi, Bimo bakal berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Dishub serta pengusaha angkutan kapal agar lebih berhati-hati lagi saat melakukan perjalanan. Terlebih lagi saat ini cuaca ekstrem tengah melanda sejumlah daerah. 

"Nakhoda kapal seharusnya memiliki alat komunikasi dengan BMKG atau KSOP untuk menanyakan situasi cuaca sebelum melanjutkan pelayaran. Ke depan kami harap pengawasan bisa lebih diperketat," bebernya. 

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan, Nelson Firdaus mengakui masih banyak kapal yang berlayar belum memiliki perlengkapan keselamatan yang memadai seperti pelampung dan peralatan lainnya. Untuk itu, ia meminta Dishub Kabupaten/Kota yang ada di Sumsel mengawasi secara ketat. 

"Kami harap ada pengawasan terhadap kelengkapan instrumen yang dimiliki kapal. Termasuk salah satunya surat izin atau lisensi pelayaran nakhoda dari KSOP," pungkasnya. 

Adapun identitas ke-11 penumpang yang hilang dan masih dalam pencarian yakni:

Yusril (pria)
Doyok (pria)
Henmas (pria)
Iriko (pria)
Ujang Obral (pria)
Ujang Mas (pria)
Wili (pria)
Ari Sal (Pria)
SI EF (pria)
Naziri (pria)
Anak Naziri (pria)



(ALB)