Pemenang Tender Pengadaan Alat SMKN Binaan Dicekal

Farida Noris    •    Rabu, 30 Nov 2016 12:04 WIB
kasus korupsi
Pemenang Tender Pengadaan Alat SMKN Binaan Dicekal
Ilustrasi. Foto: Antara/Jafkhairi

Metrotvnews.com, Medan: Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan mencekal Direktur CV Mahesa Bahari, Imam Baharianto. Pencekalan dilakukan agar Imam yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat revitalisasi pendukung teknik permesinan di SMKN Binaan Sumut tahun anggaran 2014 ini tidak lari ke luar negeri.

"Kita sudah koordinasi dengan pihak Kejaksaan Agung agar tersangka Imam dicekal," kata Kepala Seksi Pidsus Kejari Medan, Haris Hasbullah, Rabu (30/11/2016).

Dia mengatakan sudah melayangkan panggilan kedua kepada Imam, namun tak pernah datang. "Sudah kita layangkan panggilan kedua. Jadi, kita juga menunggu proses pencekalan terhadap Imam. Karena dia mangkir dari panggilan pertama untuk diperiksa sebagai tersangka," kata dia.

Nama Imam Baharianto mencuat di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan. Kasus ini berawal pada 17 Maret 2014, SMK Negeri Binaan Sumut mendapat anggaran Rp12 miliar untuk pengadaan revitalisasi peralatan praktik dan perlengkapan pendukung teknik permesinan.

Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara Masri bersama Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang juga Kepala Sekolah SMK Negeri Binaan Sumatera Utara Muhammad Rais dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Riswan berulang kali menemui Direktur CV Mahesa Bahari untuk membahas proyek itu. 

Bahkan, biaya keberangkatan terdakwa Riswan dan Muhammad Rais untuk ke Jakarta juga ditanggung CV Mahesa Bahari. Dari proses lelang itu, CV Mahesa Bahari ditetapkan sebagai pemenang tender pengadaan mesin praktik sebanyak 85 item tanpa melalui tahapan lelang. Selain itu, penyusunan HPS dibuat secara tidak benar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Majelis hakim menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan kepada Masri. Sementara Muhammad Rais dan Riswan masing-masing divonis 2 tahun dan 8 bulan penjara serta denda Rp100 juta. Namun, jika tak membayar denda maka Riswan harus mengganti dengan 2 bulan kurungan dan Rais 4 bulan kurungan.

Ketiga terdakwa terbukti bersalah dan melawan hukum karena telah menimbulkan kerugian negara dan telah memperkaya diri dan orang lain dalam hal ini Imam Baharianto atau suatu korporasi yakni CV Mahesa Bahari sebesar Rp4,838 miliar.


(UWA)