Bulog Klaim Pengoplosan Beras Direstui Kementerian

Alwi Alim    •    Senin, 24 Jul 2017 16:32 WIB
beras
Bulog Klaim Pengoplosan Beras Direstui Kementerian
Kepala Bulog Divre Sumsel Babel, Bachtiar AS saat diwawancarai --MTVN/Alwi--

Metrotvnews.com, Palembang: Bulog Divisi Regional (Divre) Sumatera Selatan dan Bangka Belitung mengklaim mendapat restu Kementerian Pertanian untuk mencampur 39,3 ton beras tak layak edar dengan beras miskin pengadaan 2017. Proses ini bukan pengoplosan, tapi reprocessing.

Kepala Bulog Divre Sumsel dan Babel, Bachtiar A.S., Senin, 24 Juli 2017, mengatakan, “Kami harus menyalurkan raskin dalam kondisi baik karena itu kami minta izin untuk me-reproscesing untuk memperbaiki kualitas beras kurang baik dengan pencampuran beras kualitas sedang.”

Bachtiar bilang, reprocessing dilakukan semua gudang Bulog di Sumsel, bukan hanya Sub Divre Lahat. Menurutnya reprocessing bukan suatu pelanggaran dan tidak menyalahi aturan karena tidak merugikan konsumen. 

Apalagi, sambung Bachtiar, harga jual raskin itu tak berubah, hanya Rp1.600 per kilogram. “Kami tidak menyalahkan pihak kepolisian, karena mungkin ini implikasi dari kejadian di Bekasi, Tapi ini tentunya berbeda. Jadi mungkin ada komunikasi yang harus dibangun kembali,” terangnya.

Untuk temuan 1.089 ton raskin yang belum didistribusikan, ia mengakui hal tersebut. Namun keterlambatan itu karena adanya persoalan di lapangan, dimana penyaluran raskin baru disalurkan pada April 2016.

Berdasarkan aturan, ia mengaku tidak seluruh raskin pada pengadaan 2016 itu dihabiskan, karena Bulog wajib memiliki cadangan sampai dengan pengadaan 2017. Namun, karena kurangnya segi perawatan sehingga raskin 2016 ini kualitas menjadi berkurang.

“Jadi salah satu cara agar kondisi beras pengadaan tahun 2016 tetap layak edar maka dilakukan reprocessing agar dapat tersalur semua,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel, Alex Noerdin mencontohkan seperti di pertambangan. Jika batubara dengan kalori rendah tentunya daya jualnya pun berkurang bahkan tidak diminati, karena itu perlu dicampur atau mix dengan batubara berkalori tinggi sehingga kualitas pun ikut menjadi baik.

“Yang tidak boleh itu jika hasil pencampuran ini dijual dengan untung yang terlalu tinggi, ” katanya.

Tindakan yang diambil Polda Sumsel ini menurutnya baik karena sebagai peringatan agar tidak ada suatu pelanggaran di Sumsel. “Lihat saja pada saat Hari Raya tidak ada kenaikan harga, ini tentunya karena polisi turun langsung ke lapangan mengecek kondisi pasar,” ujarnya.


(ALB)