Togiman si Terpidana Mati yang Divonis Mati

Farida Noris    •    Rabu, 20 Dec 2017 19:14 WIB
narkoba
Togiman si Terpidana Mati yang Divonis Mati
Togiman alias Toge alias Tony mendengarkan vonis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu 20 Desember 2017.

Medan: Togiman alias Toge alias Tony, 60, terpidana mati bandar sabu kelas kakap, kembali dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Medan, Rabu 20 Desember 2017. Dia terbukti mengatur pengiriman 25 kilogram (Kg) sabu-sabu asal Malaysia dari dalam Lapas Tanjung Gusta Medan.

"Menjatuhkan hukuman pidana mati terhadap terdakwa Togiman alias Toge," kata majelis hakim yang diketuai Saidin Bagariang di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu 20 Desember 2017.

Majelis hakim menyatakan terdakwa telah bersalah menjadi perantara dalam jual-beli narktika golongan IA bukan tanaman dengan berat lebih dari 5 gram sebagaimana diatur dan diancam dengan Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dalam putusan ini, majelis hakim sependapat dengan JPU yang sebelumnya menuntut Toge dengan hukuman mati. Majelis juga berpandangan tidak ada hal yang meringankan hukuman Togiman.

Tak hanya Togiman, empat terdakwa lain dalam perkara pengiriman sabu-sabu ini dijatuhi hukuman masing-masing 20 tahun penjara. Satu di antara keempat terdakwa ini juga merupakan terpidana kasus narkotika, Thomson Hutabarat. 

Sementara tiga terdakwa lainnya merupakan kurir yang berada di luar penjara, yakni Abdul alias Edo, Wagimun, dan Sugiarto. Putusan terhadap keempat terdakwa lebih rendah dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut mereka hukuman penjara seumur hidup. 

Perkara ini berawal saat Abdul, Wagimun, dan Sugiarto diamankan petugas Badan Narkotika Nasiona (BNN) di Jalan Gatot Subroto, Medan, tak jauh dari pool bus Kurnia, Minggu (14/5/2017).

Untuk mengelabui petugas BNN, para terdakwa menyimpan sabu asal Malaysia itu di dalam kotak fiber pendingin ikan warna biru. Benda itu dibawa menggunakan mobil pikap Mitsubishi dengan nomor polisi BK 9615 CM.

Sekitar 3 meter bergerak dari pool bus Kurnia, mobil pikap itu dihentikan petugas BNN yang kemudian melakukan pemerikaan dan menemukan 25 bungkus plastik serbuk kristal putih. Setelah dilakukan pengecekan di laboratorium BNN, serbuk kristal putih itu dipastikan sabu-sabu.

Narkotika itu ternyata dipesan Togiman dari dalam Lapas Tanjung Gusta. Barang haram itu dia pesan dari Ayum, seorang bandar narkoba asal Malaysia. Sabu diselundupkan melalui jalur laut dan masuk ke pelabuhan tikus di Aceh. Dari Aceh, ketiga kurir membawanya ke Medan untuk diedarkan. 

Sementara Thomson Hutabarat yang juga narapidana narkotika di Lapas Tanjung Gusta Medan, berperan mencari pembeli sabu. Untuk berkomunikasi dengan kurirnya, Togiman dan Thomson menggunakan telepon seluler (handphone). Saat ketiga kaki tangannya ditangkap, Togiman terus mencoba menelepon mereka. Namun tidak diangkat, sehingga dia curiga. 

Dia menghancurkan handphone dan sim card yang dipakai, kemudian membuangnya ke dalam tong sampah di Lapas Tanjung Gusta Medan. Pria ini juga menyuruh Thomson untuk menghancurkan handponenya. 

Namun, petugas BNN sudah punya bukti mereka mengatur pengiriman 25 Kg sabu-sabu itu. Keduanya dijemput petugas BNN dari Lapas Tanjung Gusta Medan dan diterbangkan ke Jakarta untuk proses penyidikan.

Togiman sudah beberapa kali terjerat kasus narkotika. Dia awalnya merupakan narapidana perkara narkotika yang tengah menjalani hukuman 9 tahun penjara di Lapas Kelas II B Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut. 

Dia kemudian ditangkap kembali karena mengatur peredaran 21,425 Kg sabu-sabu, 44.849 butir pil ekstasi. Hukuman mati dijatuhkan hakim agung kepadanya. Terkait kasus 21,425 Kg sabu-sabu dan 44.849 butir pil ekstasi ini, Toge juga mencoba melakukan penyuapan. 

Dia pun dihukum 12 tahun penjara dan dinyatakan bersalah melanggar UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), karena memberikan Rp2,3 miliar kepada AKP Ichwan Lubis, yang saat itu menjabat Kasat Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Belawan. 



(ALB)