Pungli Masih Marak di Jalinsum Mesuji Lampung

Eko Nordiansyah    •    Minggu, 23 Oct 2016 09:45 WIB
pungli
Pungli Masih Marak di Jalinsum Mesuji Lampung
Ilustrasi stop pungli/MTVN/Dheri Agriesta

Metrovnews.com, Lampung: Pungutan liar masih marak terjadi di jalan negara, Jalan Lintas Timur Sumatera, Kabupaten Mesuji, Lampung. Pungutan liar dilakukan oknum warga yang memanfaatkan jalan rusak di lintasan yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan itu.

Pelintas mengatakan, pungutan sangat bervariasi. Siang hari, pengendara dimintai paksa rata-rata Rp50 ribu. Nominal pungutan naik pada malam hari, mencapai Rp200 ribu. Padahal, jalan negara itu dikhususkan untuk lalu lintas kendaraan masyarakat umum.

"Sebetulnya kami berkeberatan membayar pungutan itu, namun terpaksa harus memberikannya, bagaimana lagi daripada dirampok, lebih baik begitu," kata seorang sopir bus yang tak ingin menyebutkan identitasnya seperti dilansir Antara, Minggu (23/10/2016).

Keluhan serupa disampaikan sopir truk besar dari Jakarta menuju Palembang yang melewati Kabupaten Mesuji, Tomy,40. Menurut dia, begitu sampai pada titik jalan lintas yang rusak, ada puluhan orang menghentikan kendaraannya dan pura-pura mengatur lalu lintas serta mengawal kendaraan supaya aman.

Mereka kemudian meminta bayaran. Apabila dibayar dengan uang recehan, mereka marah-marah dan mengancam menggunakan senjata api rakitan. "Kami mengharapkan Pemerintah Provinsi Lampung dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memperbaiki Jalan Lintas Timur Sumatera tersebut, agar pengguna jalan terhindar dari ancaman menjadi korban tindak kriminal," kata Tomy.

Pengguna kendaraan pribadi yang melewati jalan itu pada malam hari, juga mengaku was-was. Pada sejumlah titik jalan lintas dinilai sangat rawan tindak kriminal.

Beberapa pengguna jalan menyatakan, oknum warga yang diduga kelompok preman bersenjata api rakitan biasanya menetapkan uang yang harus dibayar. Bila tidak dipenuhi, ancaman tindakan kriminal kerap kali dilontarkan.

"Beberapa waktu lalu, kami pernah terjebak saat lewat malam hari dan hujan lebat tidak memperkirakan ada jalan rusak bergelombang. Tiba pada titik jalan itu, berhenti, keluar beberapa preman dari semak-semak dan langsung minta sejumlah uang," kata Tomy.

Dalam keadaan terdesak dan tak mungkin berputar balik arah, ia mengabulkan permintaan orang tak dikenal itu. Tak cuma uang, telepon genggam dan barang berharga lainnya juga digasak.

Sementara itu, Yadi, sopir lainnya mengaku punya cara khusus menghindari aksi preman di jalan yang dinilai rawan. Dia menggunakan jasa pengamanan lokal yang mudah ditemui di jalur yang mereka lintasi.

"Daripada kita kena palak, lebih baik kita bayar jasa pengamanan. Paling kita kasih Rp50 ribu. Biasanya ada yang mengawal untuk melintas di titik rawan," ujar Yadi, saat ditemui di jalur Jalan Lintas Timur Sumatera.

Sopir angkutan barang yang sudah terbiasa mengantar barang ke Lampung ini mengungkapkan beberapa titik rawan di wilayah Kabupaten Mesuji, Lampung perbatasan dengan Mesuji, Provinsi Sumatera Selatan.


(OJE)